Senin, Februari 02, 2009

ILMU KESEMPURNAAN DUNIA AKHIRAT

Banyak percobaan yang saya lakukan untuk membuktikan kebenaran firman-firman serta petunjuk-petunjuk yang langsung diberikan Allah, dan memberikan hasil yang sangat memuaskan. Maka setelah saya merasa benar-benar yakin akan kebenaran semua firman dan petunjuk Allah itu, saya mulai mencoba untuk menyampaikannya kepada orang lain, sesuai perintah Allah sendiri. Hal ini saya lakukan kira-kira pada tahun 1958.

Ternyata hasilnya sangat memuaskan hati saya karena banyak orang yang tertarik untuk mengikuti pelajaran yang saya ini. Lebih-lebih setelah saya pensiun sebagai anggota ABRI, jumlah murid saya meningkat dengan pesat.

Karena itulah saya memohon petunjuk dari Allah untuk memberikan nama bagi pelajaran ini. Atas petunjuk Allah, pelajaran ini harus saya namai “Ilmu Kesempurnaan Dunia Akhirat” (IKDA) atau “Mustika Iman”, sesuai dengan judul buku ini. Nama ini sesuai dengan tujuan saya yang ingin membentuk manusia yang sempurna lahir batinnya dan mendapat ridho Allah dari dunia sampai akhirat.

Atas petunjuk Allah, maka saya dapat mengajarkan pelajaran-pelajaran berikut:

1. Gerakan gaib

2. Kewaspadaan mata hati (batin)

3. Petunjuk suara gaib

4. Melancong gaib (mi’raj).

Semua itu bertujuan untuk :

1. Mengenal Tuhan

2. Menjaga diri dengan sempurna

3. Menolong sesama

4. Mengetahui jalan mati.

Atau dengan kata lain, pelajaran-pelajaran ini bertujuan untuk mengenal dan mencintai Tuhan serta untuk mencintai sesama tanpa memandang bangsa maupun agama.

Pelajaran-pelajaran ini tidak mengubah ajaran-ajaran agama yang ada, bahkan dimaksudkan untuk mempertebal iman kepada Allah SWT serta mengajak kita untuk selalu ingat kepada Allah dimana saja, kapan saja dan pada waktu apa saja. Jika kita selalu ingat kepada Allah, maka Allah pun akan selalu ingat kepada kita dan melimpahkan segala berkah dan rahmatNya pada kita. Sebaliknya, jika kita melupakan Allah, kita akan menerima azab dan siksa dariNya.

Yang dimaksud ingat kepada Allah bukanlah dengan menyebut atau memuji nama Allah setiap saat, melainkan harus melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghindari segala laranganNya. Jika kita berdoa kepada Allah, kita sebut dulu nama Allah serta memujiNya, lalu kita lanjutkan dengan permohonan kita. Jika kita kurang sehat mohon sehat, kurang rejeki mohon rejeki, ingin dikasihani mohon dikasihani kepada Allah. Semua doa itu kita mohonkan dalam bahasa yang kita mengerti, karena Allah Mahatahu.

Janganlah kita beranggapan bahwa Allah hanya mau menerima doa dalam bahasa Arab saja. Jika kita bersikap sok kearab-araban, seringkali malahan maksud kita tak tercapai karena doa yang dimohonkan bertolak belakang dengan yang diinginkan.

Tapi agar permohonan kita cepat dikabulkan oleh Allah, sebelum kita memohon, baca dulu kalimat-kalimat berikut dalam hati. Setiap kalimat cukup dibaca sekali saja. Dalam pelajaran IKDA ini, kalimat-kalimat berikut disebut “kalimat kunci” :

1. Audzu billah himinassaiton nirrozim.

2. Bismillah hirrohman nirrohim.

3. Ashadu alla illaha ilallah wa ashadu anna Muhammadarasulullah.

4. Astagfirullah hal adzim lahaola wala kuwwata illa billahil aliyul azim.

5. Inna lillahi wa inna illaihi roziun.

Lakukanlah dengan sikap duduk yang baik, kedua telapak tangan berada di atas pangkuan (tangan kanan di atas, tangan kiri di bawah), tutup mulut dan mata, kosongkan alam pikiran (hening) dan tahanlah nafas sekuatnya (tidak dipaksakan). Sambil menahan dan melepaskan nafas perlahan-lahan, mohon berulang-ulang dan sambung-menyambung dalam hati.

Namun dalam situasi tertentu, misalnya sedang banyak orang, kita boleh saja memohon sambil membuka mata, asalkan nafas tetap ditahan sekuatnya dan pikiran dipusatkan. Sambil menahan dan melepaskan nafas, kita mohon terus sambung-menyambung.

Insya Allah, jika memohon sesuai dengan cara yang telah dijelaskan di atas, permohonan kita cepat dikabulkan oleh Allah, sesuai dengan firmanNya : “Udj uni asta jiblakum” yang artinya “Mintalah kamu kepadaKu, nanti Aku kabulkan”.

Adapun arti “kalimat kunci” di atas adalah sebagai berikut :

1. Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan yang terkutuk..

2. Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.

3. Tiada Tuhan yang patut kusembah dengan sebenar-benarnya, hanya Allah Tuhanku Yang Mahakuasa dan Muhammad pesuruhNya.

4. Aku berserah diri kepada Allah karena aku tiada berdaya apa-apa, hanya Allah Yang Mahasegala-galanya.

5. Asal bersama Allah kembali bersama Allah*).

*) Selama ini pendapat umum mengatakan bahwa “Inna lillahi wa inna illaihi roziun” berarti “asal dari Allah kembali kepada Allah”. Namun pendapat ini tidak benar.

Sebab, seperti dalam fiman-firman Allah yang telah saya kutip pada bagian terdahulu, Tuhan ada bersama kita, dan kita tak berdaya apa-apa tanpa Dia. Jika dikatakan asal bersama Allah kembali kepada Allah, berarti selagi hidup di dunia kita berpisah dengan Allah. Padahal dalam kenyataannya kita tak bisa apa-apa tanpa Allah (mati).

Karena itulah, selagi masih hidup manusia disebut Tritunggal yang terdiri dari :

1. Allah

2. jasmani

3. rohani

Setelah mati, lalu berubah menjadi Dwitunggal yang terdiri dari :

1. Allah

2. rohani

Jasmaninya mati karena sudah tidak bersama Allah lagi. Baik jasmani maupun rohani tidak berdaya apa-apa tanpa Allah. Karena itu, tepat jika dikatakan asal bersama Allah kembali bersama Allah.

Telah dijelaskan bahwa jika sudah mati kita berubah menjadi Dwitunggal (Allah dan rohani). Lalu, jika seseorang yang mati rohnya menjadi kuntilanak, jin, setan dan sebagainya, apakah Allah akan bersama kuntilanak itu ? Atau, jika roh seseorang yang mati masuk ke neraka, apakah Allah akan bersamanya masuk ke neraka ?

Jawabannya : ya. Zat Allah akan tetap bersama roh-roh itu walau ke mana pun atau jadi apa pun, karena tanpa Allah tidak mungkin kuntilanak bisa terbang dan tertawa-tawa, tidak mungkin jin-jin dan setan-setan bisa bergentayangan. Mereka bisa begitu karena digerakkan oleh Allah. Tanpa Allah, tidak mungkin seseorang dapat merasakan sakitnya siksaan dan panasnya api neraka, atau merasakan nikmatnya surga.

Tetapi bagi Allah sendiri, di kuntilanak, di surga maupun di neraka tidak merasakan apa-apa, di mana-mana sama saja bagiNya. Di neraka tidak merasakan panas, di surga tidak merasa nikmat, tidak butuh bidadari dan sebagainya.

Demikianlah, semoga dengan penjelasan ini para pembaca dapat memahami mengapa dikatakan “asal bersama Allah kembali bersama Allah”.

Sebagaimana telah diutarakan, pelajaran ini di antaranya bertujuan untuk mencintai sesama manusia tanpa memandang bangsa dan agama. Demikian pula, pelajaran ini dapat diikuti oleh semua orang, dari segala bangsa dan agama (bukan hanya agama Islam saja), asalkan mau dan sanggup mengikuti apa yang telah diuraikan di atas. Selain itu, kita tidak boleh menyebut dan mempercayai nama Tuhan lain selain Allah. Juga, kita tidak boleh memegang ilmu-ilmu lain yang sifatnya menduakan Tuhan atau menyekutukan Tuhan dengan yang lain.

Semenjak saya mulai mengajar hingga saat buku ditulis, telah banyak orang dari agama Katolik, Kristen, Budha, Hindu dan sebagainya yang menjadi murid dan mencapai hasil yang memuaskan. Banyak yang tertarik untuk mengikuti pelajaran ini karena sangat praktis, tidak memerlukan pantang, puasa maupun bertapa. Semua pelajaran dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat, cukup seminggu atau dua minggu saja, bahkan mungkin lebih singkat lagi, tergantung kepada kemauan, ketekunan dan keyakinan kita. Tanpa itu semua maka apa yang diinginkan tidak akan tercapai.

3 komentar:

  1. Saudaraku Salam IKDA untuk INDONESIA SATU...

    BalasHapus
  2. ass.. saya orang yang belajar ikda hanya setengah2 di karenakan buku ikda saya sempat hilang dan susah mencarinya lagi
    saya kelahiran dari jakarta besar di bekasi dan sekarang bekerja di kota malang jawa timur,
    tertarik belajar ikda.
    ini nmr telpon saya 085310599988

    BalasHapus

Berkomentar boleh, tapi dengan wajah hati yang sejuk dan damai sehingga ada cahaya illahi yang memancar keluar menjadi suatu keindahan dalam perbedaaan